CaraMasukRaudhah

Pintu dan Rute Menuju Raudhah di Masjid Nabawi

Ditulis Tim CaraMasukRaudhah · 16 September 2026

Pertanyaan yang paling sering sampai ke kami berbunyi kira-kira begini: lewat pintu nomor berapa masuknya? Jawaban yang jujur mengecewakan sebagian penanya, tetapi kami rasa tetap lebih berguna daripada angka yang terdengar meyakinkan namun keliru.

Tulisan ini memberi Bapak dan Ibu orientasi: di mana Raudhah berada di dalam bangunan masjid, nama pintu apa yang biasa disebut jamaah, dan mengapa penomoran gerbang tidak kami jadikan patokan.

Di mana sebenarnya Raudhah berada

Raudhah bukan bangunan terpisah dan bukan pula ruangan berpintu sendiri yang berdiri di luar masjid. Ia adalah sebuah area di dalam Masjid Nabawi, terletak antara rumah Nabi ﷺ — rumah Sayyidah Aisyah, yang kini menjadi makam beliau — dan mimbar beliau.

Menurut keterangan Otoritas Umum Urusan Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, luas area ini hanya sekitar 330 meter persegi, kira-kira 22 meter kali 15 meter. Angka itu penting untuk dibayangkan, karena dari sanalah seluruh pengaturan yang terasa ketat itu berasal. Sebuah ruang seukuran itu, dengan peminat sebanyak jamaah yang datang ke Madinah sepanjang tahun, mustahil dibuka begitu saja.

Keutamaan tempat ini disebut dalam hadits masyhur:

“Antara rumahku dan mimbarku terdapat taman di antara taman-taman surga.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dua hal yang sering tertukar

Sebelum membahas pintu, ada baiknya satu kekeliruan yang umum diluruskan. Masuk ke Masjid Nabawi adalah satu hal; masuk ke area Raudhah adalah hal lain. Yang memerlukan izin terjadwal adalah kunjungan ke Raudhah, bukan masuk ke masjidnya.

Adapun ziarah ke makam Rasulullah ﷺ, jamaah pria umumnya melaporkan dapat melakukannya pada waktu yang lebih longgar. Kami menuliskannya sebagai pengalaman yang umum dilaporkan, bukan sebagai aturan resmi, karena kami tidak menemukan keterangan resmi yang dapat dirujuk untuk hal tersebut. Yang jelas dan dapat dipegang: kunjungan ke area Raudhah wajib dipesan lebih dahulu.

Nama pintu sebagai patokan, bukan nomornya

Masjid Nabawi memiliki banyak pintu, dan sebagian namanya sudah dikenal luas di kalangan jamaah. Salah satu yang paling sering disebut adalah Pintu As-Salam, yang dalam penyebutan Arabnya dikenal sebagai Bab As-Salam. Nama seperti ini relatif tetap dan berguna sebagai penanda arah ketika Bapak dan Ibu berbicara dengan sesama jamaah atau dengan pembimbing rombongan.

Yang tidak tetap adalah penomoran gerbang dan pembagian alurnya. Otoritas menyesuaikan jalur masuk dan keluar menurut kepadatan, musim, serta kebutuhan operasional hari itu. Karena itu nomor gerbang yang beredar di berbagai tulisan bisa benar pada satu periode dan menyesatkan pada periode berikutnya.

Kami menyebut nama pintu hanya sebagai gambaran orientasi. Rujukan yang mengikat tetap dua: keterangan yang tertera pada izin Bapak dan Ibu di aplikasi Nusuk, dan arahan petugas di lokasi pada hari kunjungan. Ketentuan dapat berubah sewaktu-waktu, jadi periksa kembali aplikasi Nusuk terbaru sebelum berangkat.

Rute yang biasa dilalui dari pelataran

Alih-alih menghafal nomor, lebih berguna memahami bentuk perjalanannya. Polanya kurang lebih seperti ini.

Jamaah pemegang izin umumnya diarahkan berkumpul lebih dahulu di suatu area di pelataran, bukan langsung menuju pintu. Dari titik kumpul itulah kelompok dibawa bergerak setelah izin diperiksa dan kode QR dipindai. Karena itu, mendekat ke pintu tanpa melewati titik kumpul biasanya berakhir dengan diminta kembali.

Setelah masuk, jamaah bergerak mengikuti jalur yang ditunjukkan petugas sampai ke area Raudhah, lalu keluar melalui jalur yang ditunjukkan pula. Jalur keluar ini kerap berbeda dari jalur masuk, dan itulah sebabnya rombongan sering tercerai setelah keluar. Runtutan lengkapnya kami uraikan di panduan langkah demi langkah.

Masih sulit membayangkan arahnya?

Silakan ceritakan di mana rombongan Bapak dan Ibu menginap dan kapan rencananya berkunjung. Kami bantu jelaskan orientasinya dengan bahasa yang lebih mudah dibayangkan. Bertanya tidak dipungut biaya.

Tanya Dulu via WhatsApp

Jalur jamaah pria dan wanita tidak sama

Satu hal yang perlu disiapkan rombongan keluarga sejak awal: waktu kunjungan jamaah pria dan wanita dipisah. Pemisahan ini bukan kebiasaan lapangan, melainkan bagian dari pengaturan resmi — layanan izinnya pun terdaftar sebagai dua layanan yang berbeda untuk pria dan wanita.

Konsekuensinya di lapangan, area berkumpul dan jalur yang dilalui juga berbeda. Suami dan istri tidak akan berjalan beriringan menuju Raudhah. Menyadari hal ini sejak dari tanah air membuat rencana hari itu jauh lebih tenang, terutama bila ada jamaah lanjut usia yang memerlukan pendamping.

Adapun jam persisnya, kami tidak menuliskannya. Jadwal sesi disesuaikan menurut musim dan kepadatan, dan yang berlaku adalah yang ditampilkan aplikasi ketika Bapak dan Ibu memilih slot.

Menyiapkan titik bertemu sesudah keluar

Inilah satu saran praktis yang paling sering kami ulang. Sebelum berpisah menuju area masing-masing, sepakati satu titik bertemu yang jelas dan mudah dikenali di pelataran, misalnya dekat sebuah pintu yang namanya sudah sama-sama dikenal.

Sepakati juga perkiraan waktu tunggu yang longgar, karena jamaah tidak keluar bersamaan dan lamanya proses berbeda antarorang. Bila ada anggota rombongan yang tidak terbiasa memakai ponsel, titik bertemu yang disepakati sejak awal itulah yang menyelamatkan.

Orientasi yang cukup untuk dibawa

Bila diringkas, yang perlu Bapak dan Ibu bawa hanya tiga hal. Pertama, Raudhah berada di dalam masjid, antara makam Rasulullah ﷺ dan mimbar beliau, di ruang yang tidak luas. Kedua, nama pintu boleh dijadikan penanda arah, nomor gerbang jangan. Ketiga, rujukan yang benar-benar berlaku pada hari kunjungan adalah keterangan di izin dan arahan petugas.

Dengan tiga hal itu, Bapak dan Ibu tidak akan tersesat meski jalurnya berbeda dari yang dibayangkan. Adab selama berada di dalam dapat dibaca pada catatan tentang sikap praktis yang menjaga ketertiban, sedangkan kendala yang muncul di tahap pemeriksaan dibahas dalam tulisan mengenai penolakan di pintu. Gambaran layanan pendampingan kami ada di halaman utama situs ini.

Ingin ditemani menyusun rencananya?

Kami membantu jamaah memetakan hari kunjungan: kapan berangkat dari penginapan, siapa mendampingi siapa, dan di mana berkumpul kembali. Izinnya sendiri tetap terbit di platform Nusuk tanpa biaya dari pemerintah Arab Saudi.

Konsultasi Gratis via WhatsApp

WhatsApp